Mamak sakit demi memondokkan anak

Kisah Perantauan tahul dari Kalimantan sampai Mesir dimulai  usia 6 tahun.


“Orang tua tidak tega, tapi saya memaksa” Ungkap Miftahul Umam mengawali sesi wawancara. Kisah Tahul (panngilan untuk miftahul umam) sedikit berbeda dari kebanyakan anak kecil lainnya. Setelah lulus TK di Pangkal bun Kalimantan Tengah, dia meminta orang tuanya untuk belajar ke Pondok di Pulau Jawa.

Malam sebelum berangkat, badannya panas. Orang tuanya semakin khawatir. Mamaknya bahkan menyarankan untuk tidak jadi berangkat. Namun anehnya, di pagi hari keberangkatan, badannya kembali segar bugar.

Saat itu tahul masih berumur 6 tahun. Sekecil itu dia sudah terinpsirasi dengan beberapa tetangga yang belajar ke Jawa. Ia menghabiskan kelas 1 dan 2 SD di sebuah pesantren bernama Badi’us Syamsi, daerah Pucang anom, Madiun. Tidak banyak yang bisa dia ceritakan untuk masa itu selain ladang tebu belakang pesantren tempat menghabiskan masa kecilnya dengan bermain petak umpet. Dan perjuangannya merawat diri sendiri di usia sekecil itu tentunya.

Tahul kecil yang belum bisa merawat diri sendiri bahkan pernah mneyimpan muntahan di lemari. Hal itu membuat ketidaktegaan mamaknya semakin tinggi. Diakhir kelas 2 dia dibawa pulang. “Mamak waktu itu tidak sanggup ditinggal tahul ke pondok. Mamak sering sakit. Sebulan 2 kali ke dokter. Tapi tahul ngak mau sekolah kalo ngak di jawa. Demi masa depan tahul, mamak harus ikhlas dan merelakan tahul ke jawa” ungkap mamak tahul yang diceritakan ulang saat wawancara.

Tak bertahan lama dirumah. Tahul akhirnya kembali masuk ke Pesantren. Kali ini Mbah Uti nya yang menyarankan. Di sebuah sore, di depan rumah bude nya, Mbah Utinya bilang”Hul, nanti pindah ke pondok di Ponorogo. Disana bisa ngapalin Quran. Nanti disambang (dijenguk.red) sama Mbah uti seminggu sekali” cerita tahul. Mbahnya memang tinggal di Jombang.

Kelas 3 sampai kelas 6 SD dihabiskan Tahul di Ma’had Al Muqoddasah. “Disinilah masa kecil yang indah itu dimulai” ujar tahul. Terbukti, di Muqoddasah badan tahul lebih bersih. Ia harus mandi sebelum subuh –jika tidak akan ada ustad yang menyiram dengan air dari diesel-, menunggu antrian mandi dipojokan sambil mengantuk, pemeriksaan perlengkapan setiap sabtu sore, serta masih banyak lagi kenangan tahul disana. Yang paling abadi adalah panggilannya yang berubah menjadi umam, ustadhah afi yang mengusulkan.

Tahul atau umam melalui masa kecilnya untuk menghafal al Quran sambil sekolah formal dengan tidak mudah. “Pasang surut seperti ombak lautan”begitu kenangnya. Ia pernah mendapat ustad yang cukup tegas, jika tidak menyetor hafalan, akan dijemur di tengah lapangan dengan setengah telanjang dada. Alih-alih mengeluh, ia justru sangat berterimakasih dengan ustad tersebut. Melalui beliau, hafalan umam bertambah sangat maksimal. Bersama santri kecil lainnya, umam menghabiskan masa sekolah dasar penuh suka duka di Pesantren tersebut. “Kalau capek berdiri, saya curi-curi kesempatan untuk duduk” jelasnya disambung dengan gelak tawa.

Perjalanannya di Pesantren di lanjutkan ke tempat yang lebih jauh lagi, di ujung pulau garam, Madura. Di Ma’had Tahfidh Al Quran Al Amien Prenduan, ia menamatkan jenjang SMP dan MAK, sekaligus menyelesaikan hafalan 30 juz al Quran. Perjuangan dan pengorbanannya semenjak kecil pun seolah terbayar lunas dengan diterimanya dia di Universitas Islam tertua di Dunia; Al Azhar, Kairo.

Tahul yang saat ini berada di tahun ketiga jurusan Tafsir berpesan kepada seluruh anak kecil yang berada di Pondok juga orang tuanya untuk menikmati proses yang ada. “Pantang bagi orang yang berjuang untuk mengeluh” Ujar pria kelahiran 8 maret 1995 tersebut. Bersama itu, dia juga menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada orang tuanya, Mbah Uti dan Mbah kakung, dan seluruh tema-temannya selama di Pesantren.

Khusus untuk KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Ma’had Al Muqoddasah tahul berterimaksih atas segala cerita dan pengalaman yang telah diberikan selama di Pesantren. Begitu pula dengan sahabat terbaiknya selama di Pesantren, Radifan Ahmad Chasbi, ia bertermakasih atas kesetiannya mendegarkan setiap curhatan.

Selamat belajar tahul, masa kecillmu telah kau taklukan dengan sempurna, sekarang persiapkan masa depanmu untuk umat dan bangsa !!!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *