Rahasia Sang Juara

Kunci kesuksesan Professor peraih King Faisal International Prize 2018 yang tidak banyak orang tahu!

Oleh; M. Hamka

Prof. Dr. Irwandi Jaswir, ilmuan Indonesia yang saat ini bekerja sebagai Koordinator Riset di Halal Industry Research Centre, Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM) mendapatkan King Faisal International Prize (KFIP) 2018 pada Rabu (10/1) kemarin untuk kategori pelayanan terhadap Islam. Namanya kini bersanding bersama Raja Salman bin Abdul Aziz, H.E. Recep Tayyip Erdogan, Dr. Zakir Naik serta pemenang KFIP pada tahun-tahun sebelumnya.

Penghargaan ini diberikan atas kontribusi besar Prof. Dr. Irwandi Jaswir dalam ilmu kehalalalan makanan. Salah satunya, beliau berhasil menemukan sebuah alat untuk mendeteksi makanan yang mengandung zat non-Halal dengan sangat cepat. Bahkan, beliau juga berhasil menciptakan Gelatin dari sumber-sumber yang Halal. Serta banyak lagi karya Internasionalnya yang sangat membantu perkembangan Industri halal Dunia.

Dengan terpilihnya Prof. Dr. Irwandi Jaswir dalam KFIP 2018, berarti untuk kedua kalinya Indonesia mendapatkan King Faisal International Prize yang bermula sejak tahun 1977 itu. Sebelumnya, 38 tahun lalu (1980), Muhammad Natsir juga mendapatkan penghargaan serupa atas pelayanannya untuk Islam.

Perjalanan akademis

Prof. Dr. Irwandi menyelesaikan pendidikan SD sampai SMA di kampung halamannya, Bukit Tinggi. Setelah lulus dari SMA 1 Bukit Tinggi, melalui jalur undangan, ia melanjutkan ke Instititut Pertanian Bogor (IPB) bidang Teknologi Pangan dan Gizi. Saat itu hanya ada 2 undangan dari setiap sekolah pilihan  untuk masuk ke IPB.

Berasal dari keluarga yang sangat sederhana, anak ke-6 dari 7 bersaudara ini tidak jarang harus membagi waktu belajarnya untuk mengajar guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. “Saat itu kakak-kakak saya juga sedang kuliah, jadi saya sering hidup dari beasiswa dan sambil mengajar,” ungkap pengagum Prof. Dr. BJ Habibie tersebut.

Memasuki tahun terakhir kuliah, Irwandi muda mulai memikirkan kelanjutan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang sangat sederhana, ia hanya terpikir untuk menjadi dosen di almamaternya, dengan harapan bisa disekolahkan ke jenjang berikutnya. Namun, harapan itu tidak mudah untuk didapatkan. “Saya ingin melanjutkan sekolah lagi, tapi tidak mungkin minta uang ke orang tua, jadi ya mencoba melamar jadi dosen, tapi ternyata perlu waktu yang lama,” jelas Professor yang punya hobi menulis dan bermain tenis tersebut.

Tekadnya yang kuat untuk terus belajar mendorongnya untuk menulis banyak surat permohonan dan mengirimkannya ke berbagai institusi pendidikan baik dalam dan luar negeri. Salah satunya adalah Universitas Pertanian Malaysia yang ia dapatkan informasinya di penghujung sebuah malam. “Saat itu saya tulis tangan banyak surat, saya terangkan keadaan saya, kemudian saya kirimkan surat-surat itu melalui Pos karena saat itu belum ada email seperti sekarang,” kenangnya saat wawancara.

Gayung bersambut, surat yang dikirimkan ke Universitas Pertanian Malaysia pun mendapat Jawaban. Dengan status sebagai Research Assistant, ia bisa berkuliah di UPM tanpa biaya sekaligus mendapatkan uang saku. Dibawah bimbingan seorang professor senior, keilmuannya dalam bidang pangan semakin dalam. Pendidikan Magisternya diselesaikan pada tahun 1997.

Atas prestasi akademiknya yang sangat baik, pemuda kelahiran Medan, 20 Desember 1970 itu mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan ke tingkat doctoral di Jepang. Namun, hanya ada satu tiket yang akan diberikan untuk banyak peserta dari ASEAN. Ujian penentuan diadakan di Thailand, dan ia berhasil menjadi peserta nomor satunya. Sayangnya, karena satu dan lain hal, ia tidak jadi berangkat ke Jepang.

Irwandi kemudian tetap melanjutkan pendidikan doktoralnya di UPM. Beruntungnya, enam bulan kemudian ia mendapatkan kesempatan untuk belajar di University of British Columbia, Kanada selama 2 tahun. Meski beasiswa yang ia dapatkan hanya $ 700 (sedangkan untuk sewa tempat tinggal saja $ 450), di bawah bimbingan professornya di Kanada itulah karya-karya ilmiahnya berhasil menembus jurnal sangat bergengsi di Dunia. Tidak banyak mahasiswa doktoral yang berhasil menembus Journal tersebut.

Kekaguman Professor pembimbing atas kemampuan Irwandi membuatnya suatu hari bertanya tentang beasiswa yang didapatkannya. Sang Professor sangat terkejut ketika mengetahui bahwa beasiswanya hanya $ 700, sedangkan untuk mahasiswa master saja minimal mendapatkan $ 900. “I should give you money,” ungkap Profesornya ditirukan oleh Irwandi.

Diakhir program doktoralnya di UPM, ujiannya bahkan dilakukan oleh seorang Professor di Kanada yang sangat hebat dibidangnya, yang juga dikagumi oleh 2 Professor pembimbingnya di Malaysia juga Kanada. Berkat banyak karya ilmiah yang telah ditulisnya, ujian itu berjalan dengan cepat dan lancar. Bahkan Professor tersebut menuliskan kebanggaannya “Jika Mahasiswa ini ada di universitas saya, dia tidak perlu viva.”

Pada tahun 2005, Irwandi berkesempatan untuk melanjutkan study post-doctoralnya di Japan Society for Promotion of Science yang saat itu menjadi Program terbaik Post-Doctoral di Dunia. Di Jepang ia mendapatkan beasiswa yang sangat besar untuk mengembangkan penelitiannya. Disamping itu, dia juga menekuni hobi menulisnya dengan menjadi wartawan Majalah BOLA. Sejumlah atlet kelas dunia pernah diwawancarainya secara langsung, diantaranya ada Kaka dan Maria Sharapova.

Rahasia suksesnya

Prestasi Prof. Dr. Irwandi Jaswir masih terus berlanjut bak bola salju yang semakin hari semakin besar. Saat ini ia telah memeliki 3 hak patent untuk hasil penemuannya. Sebelum mendapat KFIP tahun 2018 ini, ia juga telah mendapatkan banyak prestasi yang membanggakan baik tingkat Nasional maupun International, diantaranya;

  • Peneliti Terbaik International Islamic University Malaysia (IIUM). (2004)
  • Medali Perak pada “The 34thInternational Exhibition of Inventions, New Techniques and Products of Geneva” (2006)
  • Pemenang ke-2 pada ajang “Anugerah Saintis Muda Asia Pasifik 2009” di BangkokThailand.
  • Penghargaan Habibie Awardperiode XV tahun (2013)
  • Best Innovation Awardpada forum World Halal Research Summit (WHRS) 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia
  • Serta puluhan pristasi lainnya

Menariknya, saat ditanya kunci suksesnya, Professor yang pernah menjabat sebagai ketua Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia ini mengungkapkan “Banyak sekali do’a-do’a saya terjawab melalui sholat Malam.” Saat mencari jalan untuk melanjutkan pendidikannya setelah dari IPB dulu, ia menemukan sebuah buku tentang Universitas Pertanian Malaysia (yang kemudian menjadi jalan suksesnya) juga setelah sholat malam.

Ia juga menceritakan kondisi ketika mengetahui kabar King Faisal International Prize ini. “Sebelum bangun untuk sholat (Tahajjud.red) saya bermimpi mendapatkan mendapatkan award ini, setelah buka Whatsapp (Pukul 04 dini hari waktu Malaysia) ternyata mimpi saya benar,” Ujar suami dari Dokter Gigi Fitri Octavianti tersebut.

Selain sholat malam dan selalu baik dengan orang tua, ia juga merutinkan Sholat Dhuha. Baginya walaupun kecil, ibadah harus tetap konsisten. Dalam bekerja, ayah dari 4 anak ini sangat mengutamakan tekad dan kegigihan. Beliau berpesan bahwa halangan pasti ada dalam setiap perjalanan, maka harus siap untuk tahan banting dan tetap semangat. “Tidak mungkin hidup tidak ada hambatan, tapi jika dijalani pasti bisa,”tegasnya diakhir wawancara.

Prof. Dr. Irwandi Jaswir telah mengharumkan nama Indonesia, Malaysia, Islam, dan dunia ilmu pengetahuan melalui tekadnya yang kuat dan ibadah malamnya yang hebat. Semoga ilmunya semakin bermanfaat dan perjalanannya menginspirasi banyak generasi berikutnya!!!

 

Usai wawancara bersama Prof. Dr. Irwandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *