Belajar Kehidupan dari AL Amien Prenduan

Ditulis oleh : Muhammad Hamka Alumni Ma’had Tahfidh Al Quran Al Amien Prenduan

(Mahasiswa International Islamic University Malaysia jurusan ilmu politik dengan beasiswa penuh dari al Muntada Al Islami, UK)

Sabtu 08 oktober lalu, Jawa Pos Radar Madura meliput berita tentang Acara Khotmul Quran dalam rangka kesyukuran Al- Amien Prenduan yang ke-64. Dengan judul besar “AL AMIEN PRENDUAN SEJUKKAN INDONESIA” disertai gambar beberapa tempat pelaksanaan acara hataman, saparuh halaman muka Koran diwarnai oleh berita Al Amien Prenduan. Dari Malaysia, saya tidak bisa membacanya secara langsung, tapi gambar halaman utama Jawa Pos Radar Madura yang dikirim oleh teman di Indonesia menyelipkan rindu juga haru akan pesantren.

Ada banyak yang bisa dikenang dari perjalanan 4 tahun menjadi santri di Tanah Jauhari. Terlalu sukar dilupakan jasa dan pengabdian yang pernah saya dapatkan disana, bahkan rasanya tidak akan pernah mungkin bisa untuk membalas. Sebuah perjuangan total dari para Kiayi dan Pendidik di Al Amien Prenduan merupakan bukti nyata kontribusi pesantren untuk Agama dan Dunia. Para Alumni pasti sepakat, bahwa Pesantren Al amien Prenduan tidak hanya mengajarkan ilmu di dalam kelas saja, tetapi juga ilmu kehidupan yang sangat bermanfaat untuk masa depan.

Telah genap 64 tahun Al Amien Prenduan berdiri di sebuah pulau dari bagian wilayah jawa timur. Ribuan alumni tersebar ke berbagai daerah di seluruh Mancanegara, bergerak dalam bidang yang berbeda, mengabdikan diri kepada masyarakat dan ummat. Perjalanan panjang yang wajib disyukuri dan diapresiasi oleh segenap pihak. Ada banyak sekali perubahan yang terjadi dalam 64 tahun ini, dari foto masa lalu, saya melihat kemajuan yang pesat dalam pembangunan, dari jumlah santri yang ada, selalu bertambah setiap tahunnya, dari susunan dewan tertinggi Al Amien Prenduan (Majlis Kyai) telah berganti generasi.

Dari semua fakta tersebut, Al Amien Prenduan mempunyai ruang sendiri dalam hati. Al Amien Prenduan telah mengantarkan saya meraih beasiswa penuh untuk belajar di International Islamic University Malaysia. Bukan hanya itu, jika boleh saya merincikan, inilah sebagian kecil dari nilai-nilai yang telah Al AMIEN Prenduan tanamkan dalam diri saya, juga mungkin ribuan alumni lain yang merasakannya.

Kepemimpinan

“Siap memimpin dan siap dipimpin”. Itulah mantra sakti yang selalu diulang-ulang oleh pimpinan pada banyak kesempatan. Pertama masuk pesantren tahun 2009, saya tidak terpikir akan mendapat tugas untuk memimpin sebuah organisasi santri dengan ratusan anggota. Perjalanan waktu mengajarkan banyak hal tentang kepemimpinan, dari sekala terkecil yaitu kelas, kamar, kemudian angkatan, kelompok Ekstrakulikuler, bagian-bagian dalam organisasi menyediakan ladang yang lapang bagi santri untuk berlatih tanggung jawab dan nilai-nilai lain sebagai pemimpin.

Melalui sebuah program bernama Pelatihan Kepemimpinan dan Management, seluruh santri kelas 4 (setara kelas 1 SMA) dipersiapkan secara intensif selama 3 hari untuk menjadi pengurus santri ketika kelas 5 nanti. Persiapan secara fisik dan mental, jasmani dan rohani. Dibimbing oleh para praktisi yang sangat berpengalaman pada bidangnya masing-masing. Setelah itu, setiap santri kelas 5 akan mempunyai tanggung jawabnya masing-masing terhadap anggota. Mengurus kegiatan santri selama 24 jam, lengkap dengan segala problem dan kendalanya.

Kelas 5 merupakan masa terberat seorang santri, dia tidak hanya harus menyelesaikan kewajibannya sebagai santri seperti belajar dan mengaji, tetapi juga harus mengurus seluruh aktivitas santri lainnya. Tidak jarang, waktu tidur harus tergadaikan, waktu makan harus terkorbankan demi tanggung jawab yang harus ditunaikan. Banyak yang tumbang dalam perjalanannya di periode ini, hanya yang kuat dan Allah Ta’ala pilih yang masih bertahan.
Pendidikan kepemimpinan itu telah berpengaruh banyak terhadap perjalanan hidup saya. Dari awalnya ketua bagian bahasa, wakil ketua angkatan, kemudian ketua Seminar Nasional yang akhirnya membawa saya terpilih menjadi ketua pengurus santri. Tugas kepemimpinan berlanjut sampai saat ini, saya Alhamdulillah mendapatkan amanah untuk menjadi ketua pelajar Indonesia di asrama dan wakil ketua asrama dengan anggota seluruh mahasiswa ASEAN yang berada dalam beasiswa. Pengalaman kepemimpinan di Al Amien Prenduan sangat bermanfaat untuk diterapkan saat ini, bahkan hingga masa yang tak terkira.

 

Bersama beberapa teman seangkatan di Al Amien

Pendidikan

Pendidikan yang Al Amien Prenduan tawarkan sangat beragam sesuai dengan harapan dan cita-cita masyarakat. Untuk yang berniat menjadi ilmuan yang hafal Al Quran, tersedia Ma’had TAhfidz Al Quran (MTA). Untuk yang berminat menjadi pendidik, ada Tarbiyatul Muallimin Al Islamiyah (TMI). Tersedia juga ma’had salafi, SMK, sampai perguruan tinggi. Semuanya menanamkan nilai-nilai kepesantrenan yang akan membedakan santri dan non-santri pada umumnya.
Yang manarik, hampir di seluruh lembaga, bahasa kesehariannya adalah arab dan inggris. Fenomena yang jarang di temukan pada pesantren lainnya. Sebagai Santri MTA, saya punya kewajiban untuk mengahafalkan al Quran, mengikuti sekolah formal dengan bahasa pengantar arab, juga kegiatan asrama yang tidak kalah padatnya. Seolah 24 jam berlalu tanpa terasa. Diawali oleh sholat tahajjud pukul tiga pagi, berakhir dengan belajar malam pukul Sembilan malam.

Pendidikan komplit yang Al Amien Prenduan bekalkan menjadikan saya mampu beradaptasi dengan banyak lingkungan. Saat SMA dulu, jurusan saya keagamaan, namun saat ini saya sedang mengambil jurusan political science. Mungkin ini terkesan bagaikan langit dan bumi perbedaanya. Tapi saya ingat pesan almarhum Kiai Idris Jauhari suatu hari ketika sowan “Kalau kamu mengambil ilmu akhirat, ilmu dunia juga akan dapat”. Pesan yang kemudian menjadikan saya memilih jurusan keagamaan. Hati kecil saya selalu menginginkan untuk belajar keduanya. Alhamdulillah sekarang tiba saatnya, saat di kampus saya belajar ilmu dunia dengan bahasa Inggris, sedangkan di asrama belajar ilmu agama dengan bahasa Arab. Di kampus, Alhamdulillah semua berjalan lancar tanpa banyak masalah karena Al Amien membekali bahasa inggris dan pengetahuan umum, begitupun di Asrama, apa yang telah diajarkan dulu kini terulang kembali, dengan pendalaman yang lebih tentunya. Al Amien prenduan mengajarkan kunci-kunci kehidupan untuk membuka banyak pintu yang dibutuhkan

Dipercaya sebagai panitia sebuah forum Internasional

 

Pengalaman

Banyak yang kaya ilmu tapi miskin pengalaman. Seorang muslim yang baik seharusnya mampu memadukan keduanya. Itulah pendidikan terbaik yang membekas di hati saya dari Al Amien Prenduan. Bukan hanya teori yang diajarkan, tetapi juga kesempatan untuk mengamalkan teori, memperbaiki kesalahan dan melanjutkan kebaikan. Adanya pengabdian mengajar mengantarkan santri tidak hanya merasakan pengalaman untuk dididik tetapi juga menjadi pendidik. Organisasi mengajarkan pengalaman untuk bekerja dengan tim, membangun jaringan dan bertanggung jawab. Belum lagi pengalaman perlombaan skala regional maupun nasional. Al Amien membuka pintu seluas-luasnya untuk menimba pengalaman sebanyak-banyaknya.

Demi membekali santri dengan banyak pengalaman, bermacam-macam kegiatan ektrakulikuler disediakan: Pramuka, Jurnalistik, Marching Band, Sholawat, dll. Saya termasuk dari anggota jurnalis. Menjadi anggota jurnalis memberikan pengalaman tersendiri. Banyak kesempatan untuk mengetahui hal-hal yang tidak banyak orang tahu, wawancara tokoh-tokoh hebat, menghadiri acara yang tidak semua santri bisa menghadirinya, bekerja dibawah waktu yang sangat terbatas, serta pengalaman lain yang tidak mampu diungkap tapi sangat bermanfaat. Pengalaman itu mempermudah proses wawancara untuk beasiswa dan menjadikan saya mudah menyesuaikan diri saat berjumpa dengan orang baru dari berbagai belahan dunia di Malaysia. Pengalaman menulis juga mempermudah proses dakwah yang menjadi salah satu agenda wajib bagi mahasiswa dalam beasiswa yang saya dapatkan.

Melalui tulisan ini, Jika tidak berlebihan, maka saya katakan bahwa Al Amien Prenduan mencetak satu santri dengan banyak manfaat untuk masyarakat atau islilahnya “Rajulun wahidun ka alfi rijalin” satu pemuda yang setara dengan 1000 pemuda. Saat di pesantren, semua pendidikan mungkin terkesan berat, tapi di luar sini jutaan nikmat didapat. Hanya terimakasih yang mampu terungkap beserta doa-doa kebaikan untuk para pimpinan yang semua pihak yang telah berjasa untuk diri saya dan ribuan alumni lainnya. Sampai kapanpun, di darah ini mengalir pendidikan dari Al Amien Penduan. Terimakasih dari Negeri Jiran !!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *